"Pandemi Kelaparan" Efek Krisis Covid-19



Pandemi Covid-19 akan menyebabkan lebih banyak penduduk negara miskin dan berkembang terancam kelaparan (hunger) serta kelaparan.



Pandemi covid-19 telah mengancam asasi paling dasar bagi tiap manusia di dunia yakni hak untuk hidup. Lebih dari 200 ribu jiwa melayang akibat virus mematikan tersebut. Tak hanya itu kini kelaparan juga menjadi ancaman yang mengintai nyawa ratusan juta penduduk dunia.

Di mana-mana orang sudah bicara tentang kekurangan pangan. Gara-gara pandemi Covid-19, banyak orang tidak bisa bekerja. Banyak orang kehilangan penghasilan. Kalau tidak ada penghasilan, bagaimana mau membeli makanan? Tetapi, tidak hanya itu saja. Bagaimana kalau makanan yang mau dibeli juga tidak ada? Terakhir, tanggal 22 April 2020, PBB memperingatkan bahwa sangat mungkin terjadi kelaparan yang hebat di dunia akibat Covid-19.

Saat ini menyebut jumlah yang mengalami kelaparan tingkat krisis mencapai 270 juta pada 2020 sebagai akibat dari pandemi virus corona, melejit lebih dari 80 persen dari tahun sebelumnya. Ada 10 titik kelaparan terparah di dunia yaitu Yaman, Kongo, Afghanistan, Venezuela, Afrika Barat, Ethiopia, Sudan, Sudan Selatan, Suriah, dan Haiti.

Bahaya kelaparan yang berkepanjangan itu diperkirakan memperburuk situasi yang sudah memprihatinkan - 1 dari 9 orang saat ini tidak memiliki cukup makanan, yang berarti 820 juta orang menghadapi kelaparan yang terus berlanjut. Sadar hal ini bukan terbatas pada kesehatan seseorang, ini telah menjadi sebuah krisis kelaparan dan memakan banyak korban.

"Pandemi kelaparan" terkait wabah COVID-19 diperkirakan akibat kesulitan ekonomi, kenaikan harga, dan gangguan dalam rantai pasokan makanan.

Virus corona mengganggu rantai pasokan makanan karena para petani dan sejumlah pekerja tidak dapat bertani atau bepergian. Keterbatasan transportasi dalam distribusi juga menyebabkan kelangkaan sumber daya, seperti misalnya di Amerika Serikat, pabrik-pabrik pengolahan daging yang terpaksa tutup.

Pekerjaan musiman mengalami gangguan sehingga pengiriman uang ke luar negeri diperkirakan menurun tajam di banyak negara, termasuk Haiti, Nepal, dan Somalia, papar Beasley lebih lanjut. Pembatasan perjalanan di seluruh dunia, kurangnya pendapatan dari para wisatawan dapat merugikan sejumlah negara seperti Etiopia di mana penerimaan pariwisata menyumbang 9,4 persen pada produk domestik bruto.

Di negara-negara seperti Sudan Selatan, produksi minyak menyumbang 98,8 persen dari total ekspor, dan harga minyak yang anjlok dapat menghancurkan perekonomian negara itu. Jika krisis ekonomi semakin parah maka sumbangan dari negara-negara kaya diperkirakan mengalami penurunan. Hal ini berarti lebih sedikit sumber daya yang digunakan sebagai bantuan untuk menyelamatkan orang-orang.

Situasi ini diperburuk dengan tingkat pengangguran global yang memuncak dan harga pangan di banyak negara terus meningkat. 

Upaya global saat ini untuk meningkatkan sistem yang mampu memproduksi dan mendistribusikan makanan, sehingga orang–orang dapat lebih tahan menghadapi guncangan dalam hidup mereka, serta mampu menghindari lonjakan kelaparan di seluruh dunia yang mengkhawatirkan.

Tanpa perlu perbaikan besar–besaran dalam rantai pasokan makanan, banyak negara yang rentan menjadi semakin rentan terhadap ketidakstabilan keuangan dan guncangan iklim.

Dunia memproduksi cukup makanan untuk semua orang, jadi ini bukan masalah kelangkaan tetapi masalah akses ke makanan yang bergizi dan terjangkau.

Petani kecil di negara berkembang membutuhkan dukungan agar mereka dapat bercocok tanam dengan cara yang lebih berkelanjutan, kemudian menyimpan dan mengangkut produk mereka ke pasar dan pada akhirnya meningkatkan mata pencaharian mereka sendiri.

Tugas kita yang paling penting untuk saat ini, yaitu bagaimana caranya agar kita tetap stay di rumah untuk membantu para tenaga medis dan para relawan yang rela berdiri digaris terdapan untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona.

Dan bagaimana cara kita tetap menjaga kebersihan agar saya,kamu,kita,mereka,dan orang-orang yang kita sayang terhindar dari virus covid-19, yaitu dengan menerapkan beberapa protokol kesehatan seperti:

1. Menjaga anggota keluarga yang sakit tetap di rumah

Satu orang yang memaksakan diri ke luar rumah saat sakit, bisa menularkan penyakitnya tersebut ke banyak orang. Jika ada anggota keluarga yang menampakkan gejala sakit, jangan biarkan mereka ke luar rumah. Bahkan dalam beberapa kasus seperti dalam kondisi pandemi virus Corona seperti sekarang, orang yang sakit diharuskan untuk mengkarantina diri mereka.

2. Membersihkan benda yang sering digunakan

Tak hanya orang yang sakit harus dilarang untuk keluar rumah, bagi orang yang sehat juga harus menjauhkan diri dari orang-orang yang menunjukkan gejala sakit tertentu. Karena itu, ada baiknya Anda membersihkan secara rutin benda-benda yang sering Anda gunakan dan sentuh. Dengan cara ini, Anda bisa mengurangi risiko terkena penyakit.

3. Menghindari kontak dengan hewan liar atau hewan ternak

Beberapa jenis hewan bisa membawa penyakit berbahaya. Mereka bisa menularkan penyakit hanya dengan menyentuh, mengonsumsi, atau bahkan berada di area yang sama.

Hewan ternak dan juga hewan liar, berbahaya bagi manusia. Terlebih saat dalam kondisi wabah penyakit. Usahakan menjauhi hewan-hewan tersebut. Jika tak sengaja melakukan kotak, cuci tangan sampai bersih dan desinfeksi benda-benda yang berada di dekat hewan tersebut.

4. Menjaga tubuh terhidrasi

Saat Anda merasa tak enak badan, tubuh akan menggunakan cairan lebih dari biasanya. Ini akan membuat Anda menjadi dehidrasi tapi disadari. Jaga tubuh agar tetap tercukupi cairannya.

5. Menggunakan masker dan sering-sering mencuci tangan

Amat penting untuk melindungi diri dengan memakai masker saat keluar rumah. Terlebih di situasi seperti sekarang. Namun, gunakan masker kain agar tenaga medis tidak kesulitan mendapatkan masker medis.

Selain itu, mencuci tangan dengan sering juga bagus untuk mencegah penyebaran penyakit. Tentu saja, harus mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik dengan cara yang benar.

Pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir harus disikapi secara bijak, penuh kesabaran, dan selalu bersikap optimistis. Pada saat yang sama, doa untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT juga harus selalu dipanjatkan.

"Kita usahakan jaga protokol Covid-19 seraya terus berdoa. Jangan berhenti berdoa. Pandemi Covid-19 ini dapat dimaknai sebagai momentum untuk kembali mengingat Allah SWT. Umat Islam juga diimbau untuk memetik hikmah atas kehadiran pandemi ini. Misalnya, kata dia, aktivitas selama pandemi yang lebih sering dihabiskan di rumah dapat dijadikan momentum memupuk kebersamaan dan keharmonisan keluarga.

Umat Islam juga harus yakin bahwa musibah yang terjadi semata-mata atas izin Allah. "Satu-satunya yang bisa melindungi kita dari virus ini hanya Allah serta hanya Allah juga yang bisa menghilangkan virus ini, harus yakin,"

Wassalam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Find me on my blog